Dalam beberapa tahun kedepan ibu kota Indonesia akan pindah ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Keputusan resmi yang dirilis pada 26 Agustus 2019 lalu ini sekoyong-koyong memicu rasa penasaran khalayak. Seperti apa kira-kira potensi alam calon ibu kota Indonesia yang baru itu.

Kalimantan dikenal sebagai daerah rawa-rawa dan memiliki banyak anak sungai. Belakangan informasi seputar potensi wisata alam di sekitar wilayah Penajam Paser Utara pun sudah mulai diwartakan. Salah satu tujuan wisata yang paling banyak mendapat sorotan adalah ekowisata mangrove Penajam.

Ekowisata mangrove Penajam berada di Kelurahan Baru, Kecamatan Penajam. Menurut informasi yang beredar, kawasan tersebut masih dalam tahap penyelesaian. Akan tetapi, hal ini ternyata tidak mengurangi keindahan alam sekitar. Tak ayal, meskipun belum resmi dibuka, masyarakat sekitar atau dari luar daerah sudah berduyun-duyun menyambangi kawasan konservasi hutan bakau yang menghadap teluk Balikpapan ini.

Baca juga: Sosial Media Terbukti Ampuh Meningkatkan Kepercayaan Diri Saat Traveling

Ekowisata Mangrove atau yang juga dikenal dengan nama Konservasi Hutan Mangrove semakin tenar berkat Festival Mangrove yang diadakan pada tanggal 1-5 Mei 2019 lalu. Festival ini diikuti perwakilan dari Kota Balikpapan, Samarinda, Bontang, dan Sangatta, serta Kabupaten Paser. Bersama-sama mereka melakukan penanaman 500 bibit bakau di kawasan tersebut. Diharapkan upaya ini akan memperbaiki ekosistem sekitar yang dikabarkan teracam rusak akibat penebangan liar dan kemarau panjang.

Di Konservasi Hutan Mangrove, wisatawan bisa dengan puas memandangi kawanan burung yang bertengger di antara pepohonan mangrove yang kehijauan. Sulur akar pohon bakau yang memantul di atas sungai menimbulkan kesan eksotis dan dijamin akan mempercantik hasil jepretan swafoto bersama keluarga dan teman. Pemandangan makin cantik jika disaksikan dari atas jembatan kayu yang memanjang di antara rindangnya pohon bakau.

Lantaran masih dalam tahap pemeliharaan, banyak kekurangan yang harus dibenahi di kawasan ekowisata mangrove ini. Beberapa di antaranya seperti ketersediaan fasilitas umum dan tempat sampah. Sebagaimana yang diketahui, sampah yang bertumpuk akan mengancam kelestarian pohon bakau dan mengakibatkan kerusakan pada kawasan Konservasi Hutan Mangrove. Untuk itu, wisatawan diharapkan bijaksana dan tidak membuang sampah sembarangan. (IA)

Sumber gambar: BeritaSatu.com