Berbicara mengenai wisata alam Kalimantan Timur tidak akan ada habisnya. Provinsi yang baru saja ditetapkan menjadi bakal ibu kota Indonesia yang baru ini memang punya sejuta kejutan. Tidak hanya potensi alamnya saja menarik untuk dibahas, melainkan juga segudang tradisi dan kebudayaan setempat. Festival Adat Erau yang di selenggarakan di Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi salah satunya.

Setiap tahun di bulan Juni, Kota Tenggarong di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur berubah menjadi magnet wisata yang sangar ramai. Keriuhan di sepanjang pusat kota ini datangnya dari sebuah upacara adat yang disebut Festival Erau.

Erau sendiri berasal dari bahasa Kutai, yakni Eroh, yang memiliki arti ramai, riuh, atau suasana yang mengandung sukacita. Festival Adat Erau seperti halnya upcara adat pada umumnya mengandung nilai-nilai sakral dan unsur kebudayaan suku dayak yang sangat kental. Hajatan masyarakat Kutai yang diadakan selama dua pekan ini setidaknya diisi oleh lima upacara adat Kesultanan Kutai Kartanegara yang sudah dipelihara sejak ratusan tahun silam.

Baca juga: Ekowisata Mangrove Penajam, Destinasi Wisata Andalan di Calon Ibu Kota Baru RI

Menurut riwayat masyarakat setempat yang diyakini masyarakat setempat secara turun temurun, Festival Adat Erau sudah dilangsungkan sejak abad ke-12 M. Catatan sejarah menyebut upacara adat Erau pertama kali diadakan saat Aji Batara Agung Dewa Sakti, Sultan Pertama Kutai Kartanegara masih berusia lima tahun. Sejak saat itu, Festival Adat Erau selalu diadakan untuk menyamput penobatan raja baru.

Sejarah Festival Adat Erau sendiri sangat menarik digali karena menjadi saksi perubahan status Kesultanan Kutai Kartanegara di tingkat negara. Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan, Kutai Kartanegara sempat menyandang status daerah istimewa. Akan tetapi, selepas tahun 1965, wilayah ini berubah menjadi Kabupaten sehingga secara tidak langsung menghentikan tradisi Erau yang sudah berusia ratusan tahun.

Baca juga: Berwisata ke Lubang Tambang Mbah Soero di Kota Bersejarah Sawahlunto

Atas inisiatif pemerintah daerah dan restu Kesultanan, Festival Adat Erau dihidupkan kembali pada tahun 1971. Pada waktu ini pelaksanaannya ditetapkan setiap dua tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782. Seiring berjalannya waktu, Upcata Adat Kesultanan Kutai Kartanegara pun berhasil merebut hati kalayak dan diadakan rutin setiap tahun di musim libur sekolah, yakni di bulan Juni-Juli.

Sejak tahun 2013, Festival Adat Erau beralih nama menjadi Erau International Folklore & Art Festival. Bukan lagi sekedar festival daerah, Erau telah berhasil bersanding dengan sejumlah festival folklore internasional yang terdaftar di CIOFF (International Councl of Orgnaizations of Folklore Festivals and Folk Arts), sebuah lembaga internasional dibawah koordinasi UNESCO.

Letak Kutai Kartanegara yang bersebelahan dengan Penajam Paser Utara, calon ibu kota Indonesia yang baru, tentu bakal membuat Festival Adat Erau semakin ramai kedepannya. Menyandang predikat festival internasional, Upacaya Adat Erau diharapkan dapat menjadi motor promosi sejarah dan kebudayaan lokal di kancah internasional. (IA)

Sumber gambar: nationalgeographic.grid.id